Maafkan
Aku
Menatap langit senja seorang diri, pancaran
mentari mulai lenyap. Ku nanti datangnya malam, malam yang selalu menemaniku
dalam kegelapan. Ku memburu angin yang berhembus, ku titipkan segala gundah
kepadanya, ku hitung bintang di langit yang tak mungkin pernah habis saat aku
sudah tak sanggup lagi memikirkan segala sesuatu yang telah ku lewati. Andaikan
saja bulan bisa bicara dan mendengar, ku ingin ungkapkan kekesalanku padanya.
Gemercik air di pantai membawaku melangkah tuk kembali. Ku ingin menjauh dari
dunia, tapi ku tak tahu harus lari kemana?. Terkadang aku merasa semua orang di
dunia ini tak ada yang menyayangiku, tak ada yang bisa memahami maksud hatiku.
Semua yang ku impikan tak pernah jadi kenyataan. Saat ku sedih, semua pergi
menjauh, tak ada yang mau peduli. Hanya di sinilah, di pantai ini ku terpaku
melepas semua kepedihanku. Hanya pena dan kertas yang siap untuk mendengar
ceritaku.
Saat langit mulai
gelap, aku kembali pulang. Seperti biasa aku selalu kena marah oleh ibu. Ya
kadang aku merasa dia bukan ibuku dan akupun juga bukan anaknya. Setiap kali
apa yang ku lakukan tak pernah benar di matanya, hanya lah prasangka terhadapku
yang ada di dalam pikirannya.
“darimana saja kamu?”, Tanya ibu
“dari samping rumah, di
pantai”, jawabku
“kamu itu main aja yang
dikerjain, gak pernah bantu ibu,….”, ibu mulai mengomel panjang lebar.
‘Tuhan aku capek dengan
semua ini, dari kecil sampai sekarang, aku selalu menuruti apa kata ibu. Kurang
apa aku ini? Aku sudah melakukan apapun demi dia, tapi baginya tetap saja kurang’
batinku.
Aku mulai terbiasa
mendengar omelan ibu, walau terkadang dapat menusuk hati. Ini semua tak adil,
anaknya kan bukan aku saja ,kenapa harus aku yang selalu melakukan ini itu,
kadang aku iri dengan kakakku, dia di anak emaskan, tak pernah di marahi,
dia tak pernah bantu-bantu, kerjaannya hanya menatap layar laptop dan bermain
game, kegiatannya sehari-hari hanya itu saja. Semua keinginannya dapat
terpenuhi, apapun yang di lakukannya tak pernah di larang, sedangkan aku.
Apapun yang aku lakukan di larang dan semuanya aku yang serba salah. Aku ingin
seperti yang lainnya.
Beberapa menit
kemudian, ibu berhenti mengomel, aku pun bergegas mengambil air wudlu dan
segera sholat maghrib. Setelah itu aku mulai belajar. Rasanya pelajaran tak ada
yang masuk dalam otak, emskipun di baca berulang kali tetap saja tak bisa di
mengerti. Sampai adzan isya berkumandang, aku pun sholat isya, kemudian aku
bergegas tidur.
“loh kok udah tidur?
Udah selesai belajarnya?” Tanya ibu
“udah” jawabku singkat.
Memang akhir-akhir ini,
aku jarang berbincang-bincang dengan ibu, setelah peristiwa kemarin saat
ponselku di ambilnya, rasa sakit bercampur kecewa ini masih tak bisa hilang
dalam hatiku. Padahal aku hanya sms-an dengan temanku,sudah di curigai
macam-macam dan aku tak pernah melalaikan kewajibanku, jadi mengapa harus di
permasalahkan? Aku benci, mengapa aku harus melakukan kewajibanku, sedangkan
hak untukku mana?. Dan sejak saat itu aku memilih diam. Dim adalah jalan
satu-satunya yang bisa ku tempuh untuk melampiaskan kekesalanku, walau aku tahu
hati ibu pasti terluka. Tapi maafkan aku, rasanya capek kalau harus bertengkar
dan mencoba tuk membela diri terus menerus. Semua itu takkan berarti apa-apa.
Keesokan harinya……
Sang surya mulai
muncul, sinarnya mencoba menerobos masuk lewat jendela kamarku. Alarmpun
berbunyi, walau rasa berat ku coba tuk bangun dan bergegas mandi. selang
beberapa waktu ,segalanya sudah beres dan aku siap untuk berangkat sekolah.
“gak sarapan dulu?”
Tanya ibu
“gak”jawab ku singkat.
Tanpa menghiraukan lagi
,aku langsung keluar rumah. Ku lihat ibu masih terpaku di sana ,sambil terus
memandang ke arahku. Terbesit rasa penyesalan di hatiku karena tak
menghiraukannya. Tapi rasa sakit masih
membekas. Aku berlalu pergi menuju sekolah .
***
Hari hariku kini terasa
semakin sepi,meski banyak teman yang
menemani. Tanpa ponsel bagai kehilangan belahan jiwa. Aku masih terdiam ,
merenung sendiri di bangku ini.
“udahlah gak usah di
pikirin lagi la”
Tiba-tiba dari belakang Dira menepuk pundakku. Ya , Dira adalah orang yang selalu menemaniku,
di kala ku sedih. Dia sudah ku anggap sebagai sahabat ku sendiri ,meski kita
baru 3 bulan saling kenal. Dia mampu menguatkan saat ku lemah dengan keadaan
,dia yang selalu memberikan pundahnya saat ku terisak dalam tangis.
“biarpun begitu dia
juga ibumu ,mala” nasehat Dira .
Semua masalah slalu ku
critakan pada Dira. Dan dia selalu memberikan saran dan nasehatnya yang terbaik
kepadaku.tak terasa waktu semakin berlalu. Sang suryapun mulai tinggal di ufuk
barat. Bel pulangpun mulai berbunyi. Aku pulang.
***
Sesampai di rumah
,tanpa mengucap salam aku langsung masuk. Kulihat ibu sedang menangis di kamar.
Kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah ini karna aku yang sering tak
menghiraukannya. Aku meletakkan tasku di kamar dan bersalam kepada ibu,tapi aku
tak bertanya sedikitpun tentangnya ,pura-pura tak menghiraukan keadaanya. Lalu
aku sholat ashar. Siang berganti malam,saatnya melakukan aktivitas seperi biasanya
,belajar.dan seperti biasanya pula setelah belajar ,sholat isya’ dan akhirnya tidur. Tapi malam itu
,angin terasa menahanku agar tak memejamkan mata. Suasana begitu sunyi
,keheningan ini mengingatkanku pada seseorang ,dia adalah ibu. Dengan mengendap-endap
aku mengintipnya di kamar,tidak ada . Dan ku lihat semua orang tidak ada di
rumah. Tak menghiraukan aku langsung terlelap dalam tidurku .
***
Fajar menjelang pagi
,aku terbangun dari segala mimpi yang ada. Rumah masih sepi ,aku heran mengapa?
Lalu aku pergi mandi dan sholat subuh. Hingga jam 6 ,ku tunggu masih tak ada
orang dirumah ,akhirnya aku berangkat sekolah. Selama di sekolah aku masih
kepikiran ,hati jadi tak tenang. Dira mulai mandekatiku ,”ada apa La?” ucapnya.
Dan aku tak bergeming hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa tak
terjadi apa-apa. Beberapa jam kemudian,wali kelas memanggilku.
“ Mala,ada ayahmu di
ruang tunggu,menjemputmu.”
Lalu aku bergegas ke ruang tunggu menemui ayah sambil membawa
tas. ku lihat di sana ayah terlihat sangat
panik,aku masih bartanya sampai ayah berpamitan kepada walikelasku.
Selama di perjalanan ku bertanya pada ayah “kenapa yah ?aku kok di suruh pulang
,kita mau ke mana?”.Lama tak ada respon dari ayah tak ubahnya hanya diam.
Kemudian kami sampai
pada suatu tempat ,aku tahu itu adalah rumah sakit. Tapi ku tak tahu ,mengapa
ayah mengajakku ke sini. Tlah lama ayah membungkam ia mulai berkata ,”ibu masuk
rumah sakit terkena serangan jantung”. Aku hanya diam mendengar jawaban ayah
dan aku mulai menyusuri lorong rumah sakit. Ku lihat ibu terbaring lemah di
sana ,aku memandangnya,tak terasa aku meneteskan air mata.’tuhan ,betapa
durhakanya aku ini ,samapai-sampai aku tak memperdulikannya dan membuat sakit
hatinya hingga kini dia tak lagi berdaya di sini’,batinku menyesal. Perasaan
ini terus mendesakku. Ibu mengetahui aku berdiri di depan pintu ,ia tersenyum
melihatku. Dia menyuruhku agar mendekatinya. “maafkan aku bu “kataku sambil
menangis.“ibu sayang kamu Mala,semoga mengerti maksud ibu ,ibu hanya kau
menjadi anak yang mandiri agar nanti jika ibu tak ada kau bisa mengurus dirimu
sendiri.”ucapnya .Aku semakin terisak ,tak lama kemudian
Tiiiiiiiiiiitttt…..
Tiiiiiitttt ……………….
Ibu pergi. Ya, dia
benar-benar pergi dari dunia ini meninggalkanku,kakak,ayah dan kita semua.
Semuanya menangis,air mataku tak hentinya mengalir deras pipiku. Ku tak bisa
mengucap kata ,rasanya mulutku membisu.segala tenagaku telah hilang,tubuhku
lemah tak berdaya,penyesalan terus menghantuiku. Andai saja aku tak bersikap
seperti itu,pasti ibu tak akan begini terlambat ,saat orang yang begitu telah
pergi baru terasa bahwa dia yang sangat kita sayangi,berharga bagi kita.
Padahal ku belum sempat membanggakannya,membuatnya bangga padaku. Andai saja
waktu dapt berputar aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Tapi apa daya
,semuanya akan terus berjalan tiada berguna kita hidup dengan penyesala,kini
menyesal tiada arti yang hanya ku bisa mencoba memberikan yang terbaik agar ibu
disana bangga kepadaku. Selamat jalan,semua kasih sayangmu akan ku kenang
selalu.
SELESAI
By:Fajar Larasati
0 comments:
Posting Komentar