728x90 AdSpace

Paling Baru

Minggu, 07 Februari 2016

Maafkan Aku


Maafkan Aku
 Menatap langit senja seorang diri, pancaran mentari mulai lenyap. Ku nanti datangnya malam, malam yang selalu menemaniku dalam kegelapan. Ku memburu angin yang berhembus, ku titipkan segala gundah kepadanya, ku hitung bintang di langit yang tak mungkin pernah habis saat aku sudah tak sanggup lagi memikirkan segala sesuatu yang telah ku lewati. Andaikan saja bulan bisa bicara dan mendengar, ku ingin ungkapkan kekesalanku padanya. Gemercik air di pantai membawaku melangkah tuk kembali. Ku ingin menjauh dari dunia, tapi ku tak tahu harus lari kemana?. Terkadang aku merasa semua orang di dunia ini tak ada yang menyayangiku, tak ada yang bisa memahami maksud hatiku. Semua yang ku impikan tak pernah jadi kenyataan. Saat ku sedih, semua pergi menjauh, tak ada yang mau peduli. Hanya di sinilah, di pantai ini ku terpaku melepas semua kepedihanku. Hanya pena dan kertas yang siap untuk mendengar ceritaku.
Saat langit mulai gelap, aku kembali pulang. Seperti biasa aku selalu kena marah oleh ibu. Ya kadang aku merasa dia bukan ibuku dan akupun juga bukan anaknya. Setiap kali apa yang ku lakukan tak pernah benar di matanya, hanya lah prasangka terhadapku yang ada di dalam pikirannya.
 “darimana saja kamu?”, Tanya ibu
“dari samping rumah, di pantai”, jawabku
“kamu itu main aja yang dikerjain, gak pernah bantu ibu,….”, ibu mulai mengomel panjang lebar.
‘Tuhan aku capek dengan semua ini, dari kecil sampai sekarang, aku selalu menuruti apa kata ibu. Kurang apa aku ini? Aku sudah melakukan apapun demi dia, tapi baginya tetap saja kurang’ batinku.
Aku mulai terbiasa mendengar omelan ibu, walau terkadang dapat menusuk hati. Ini semua tak adil, anaknya kan bukan aku saja ,kenapa harus aku yang selalu melakukan ini itu, kadang aku iri dengan kakakku, dia di anak emaskan, tak pernah di marahi, dia tak pernah bantu-bantu, kerjaannya hanya menatap layar laptop dan bermain game, kegiatannya sehari-hari hanya itu saja. Semua keinginannya dapat terpenuhi, apapun yang di lakukannya tak pernah di larang, sedangkan aku. Apapun yang aku lakukan di larang dan semuanya aku yang serba salah. Aku ingin seperti yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, ibu berhenti mengomel, aku pun bergegas mengambil air wudlu dan segera sholat maghrib. Setelah itu aku mulai belajar. Rasanya pelajaran tak ada yang masuk dalam otak, emskipun di baca berulang kali tetap saja tak bisa di mengerti. Sampai adzan isya berkumandang, aku pun sholat isya, kemudian aku bergegas tidur.
“loh kok udah tidur? Udah selesai belajarnya?” Tanya ibu
“udah” jawabku singkat.
Memang akhir-akhir ini, aku jarang berbincang-bincang dengan ibu, setelah peristiwa kemarin saat ponselku di ambilnya, rasa sakit bercampur kecewa ini masih tak bisa hilang dalam hatiku. Padahal aku hanya sms-an dengan temanku,sudah di curigai macam-macam dan aku tak pernah melalaikan kewajibanku, jadi mengapa harus di permasalahkan? Aku benci, mengapa aku harus melakukan kewajibanku, sedangkan hak untukku mana?. Dan sejak saat itu aku memilih diam. Dim adalah jalan satu-satunya yang bisa ku tempuh untuk melampiaskan kekesalanku, walau aku tahu hati ibu pasti terluka. Tapi maafkan aku, rasanya capek kalau harus bertengkar dan mencoba tuk membela diri terus menerus. Semua itu takkan berarti apa-apa.
Keesokan harinya……
Sang surya mulai muncul, sinarnya mencoba menerobos masuk lewat jendela kamarku. Alarmpun berbunyi, walau rasa berat ku coba tuk bangun dan bergegas mandi. selang beberapa waktu ,segalanya sudah beres dan aku siap untuk berangkat sekolah.
“gak sarapan dulu?” Tanya ibu
“gak”jawab ku singkat.
Tanpa menghiraukan lagi ,aku langsung keluar rumah. Ku lihat ibu masih terpaku di sana ,sambil terus memandang ke arahku. Terbesit rasa penyesalan di hatiku karena tak menghiraukannya. Tapi  rasa sakit masih membekas. Aku berlalu pergi menuju sekolah .
***
Hari hariku kini terasa semakin sepi,meski banyak  teman yang menemani. Tanpa ponsel bagai kehilangan belahan jiwa. Aku masih terdiam , merenung sendiri di bangku ini.
“udahlah gak usah di pikirin lagi la”
Tiba-tiba dari belakang Dira menepuk pundakku. Ya , Dira adalah orang yang selalu menemaniku, di kala ku sedih. Dia sudah ku anggap sebagai sahabat ku sendiri ,meski kita baru 3 bulan saling kenal. Dia mampu menguatkan saat ku lemah dengan keadaan ,dia yang selalu memberikan pundahnya saat ku terisak  dalam tangis.
“biarpun begitu dia juga ibumu ,mala” nasehat Dira .
Semua masalah slalu ku critakan pada Dira. Dan dia selalu memberikan saran dan nasehatnya yang terbaik kepadaku.tak terasa waktu semakin berlalu. Sang suryapun mulai tinggal di ufuk barat. Bel pulangpun mulai berbunyi. Aku pulang.
***
Sesampai di rumah ,tanpa mengucap salam aku langsung masuk. Kulihat ibu sedang menangis di kamar. Kenapa? Aku bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah ini karna aku yang sering tak menghiraukannya. Aku meletakkan tasku di kamar dan bersalam kepada ibu,tapi aku tak bertanya sedikitpun tentangnya ,pura-pura tak menghiraukan keadaanya. Lalu aku sholat ashar. Siang berganti malam,saatnya melakukan aktivitas seperi biasanya ,belajar.dan seperti biasanya pula setelah belajar ,sholat  isya’ dan akhirnya tidur. Tapi malam itu ,angin terasa menahanku agar tak memejamkan mata. Suasana begitu sunyi ,keheningan ini mengingatkanku pada seseorang ,dia adalah ibu. Dengan mengendap-endap aku mengintipnya di kamar,tidak ada . Dan ku lihat semua orang tidak ada di rumah. Tak menghiraukan aku langsung terlelap dalam tidurku .
***
Fajar menjelang pagi ,aku terbangun dari segala mimpi yang ada. Rumah masih sepi ,aku heran mengapa? Lalu aku pergi mandi dan sholat subuh. Hingga jam 6 ,ku tunggu masih tak ada orang dirumah ,akhirnya aku berangkat sekolah. Selama di sekolah aku masih kepikiran ,hati jadi tak tenang. Dira mulai mandekatiku ,”ada apa La?” ucapnya. Dan aku tak bergeming hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa tak terjadi apa-apa. Beberapa jam kemudian,wali kelas memanggilku.
“ Mala,ada ayahmu di ruang tunggu,menjemputmu.”
Lalu aku bergegas  ke ruang tunggu menemui ayah sambil membawa tas. ku lihat di sana ayah terlihat sangat  panik,aku masih bartanya sampai ayah berpamitan kepada walikelasku. Selama di perjalanan ku bertanya pada ayah “kenapa yah ?aku kok di suruh pulang ,kita mau ke mana?”.Lama tak ada respon dari ayah tak ubahnya hanya diam.
Kemudian kami sampai pada suatu tempat ,aku tahu itu adalah rumah sakit. Tapi ku tak tahu ,mengapa ayah mengajakku ke sini. Tlah lama ayah membungkam ia mulai berkata ,”ibu masuk rumah sakit terkena serangan jantung”. Aku hanya diam mendengar jawaban ayah dan aku mulai menyusuri lorong rumah sakit. Ku lihat ibu terbaring lemah di sana ,aku memandangnya,tak terasa aku meneteskan air mata.’tuhan ,betapa durhakanya aku ini ,samapai-sampai aku tak memperdulikannya dan membuat sakit hatinya hingga kini dia tak lagi berdaya di sini’,batinku menyesal. Perasaan ini terus mendesakku. Ibu mengetahui aku berdiri di depan pintu ,ia tersenyum melihatku. Dia menyuruhku agar mendekatinya. “maafkan aku bu “kataku sambil menangis.“ibu sayang kamu Mala,semoga mengerti maksud ibu ,ibu hanya kau menjadi anak yang mandiri agar nanti jika ibu tak ada kau bisa mengurus dirimu sendiri.”ucapnya .Aku semakin terisak ,tak lama kemudian
Tiiiiiiiiiiitttt….. Tiiiiiitttt ……………….
Ibu pergi. Ya, dia benar-benar pergi dari dunia ini meninggalkanku,kakak,ayah dan kita semua. Semuanya menangis,air mataku tak hentinya mengalir deras pipiku. Ku tak bisa mengucap kata ,rasanya mulutku membisu.segala tenagaku telah hilang,tubuhku lemah tak berdaya,penyesalan terus menghantuiku. Andai saja aku tak bersikap seperti itu,pasti ibu tak akan begini terlambat ,saat orang yang begitu telah pergi baru terasa bahwa dia yang sangat kita sayangi,berharga bagi kita. Padahal ku belum sempat membanggakannya,membuatnya bangga padaku. Andai saja waktu dapt berputar aku akan memperbaiki semua kesalahanku. Tapi apa daya ,semuanya akan terus berjalan tiada berguna kita hidup dengan penyesala,kini menyesal tiada arti yang hanya ku bisa mencoba memberikan yang terbaik agar ibu disana bangga kepadaku. Selamat jalan,semua kasih sayangmu akan ku kenang selalu.
SELESAI

By:Fajar Larasati
no image
  • Title : Maafkan Aku
  • Posted by :
  • Date : 17.08
  • Labels :
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Komentar Sobat
  • Komentar Facebook

0 comments:

Posting Komentar

Top