Jangan Pergi
BUGH! PAKK! DUKH!
“Erga !! Erga !!”
JDUG! BUAKK!!
“Erga, BERHENTII !!!”
Tinju Erga yang sudah siap mendarat di wajah lawanya berhenti di udara saat Rikka-yang sekarang ada di belakangnya membuat Erga sadar bahwa ia sudah hampir saja membuat lawannya pingsan. Erga melepaskan cengkramannya dari kerah baju lawan dengan kasar dan berjalan pergi. Rikka hanya bisa memberi tatapan kasihan dan khawatir pada korban Erga, lalu mengikuti kemana Erga pergi. Beginilah Erga sekarang, tiap waktunya selalu ia gunakan untuk memukuli orang-orang yang entah kenapa senang sekali mengajak Erga beradu tinju.
“Tidak bisakah kau berhenti membuat babak belur orang yang tidak bersalah?! Kalau ada orang yang melihat bagaimana?! Mereka pasti melaporkannya ke sekolah dan kau akan dicap sebagai ...”
“Anak nakal? Remaja yang tidak berpendidikan? Seperti anak yang tak punya orang tua? Begitu?!”. Erga memotong kalimat Rikka dengan berdiri menatap Rikka tajam dan melanjutkan, “Ya. Memang seperti itulah aku. Aku seperti anak yang tak punya orang tua. Jadi, menjauh dariku!” bentak Erga tepat di depan wajah Rikka yang memandangnya dengan ekspresi yang bercampur aduk.
“Kalau orang tuamu tahu kau seperti ini, mereka pasti akan sedih.”
Mendengar apa yang dikatakan Rikka, Erga justru tersenyum sinis. “Sedih? Kau bilang mereka bisa sedih karena aku?” Erga menggeleng dengan tetap tersenyum sinis dan melanjutkan, “Itu hanya akan terjadi jika mereka benar-benar peduli padaku. Nyatanya, mereka justru lebih memilih menganak-pinakkan harta mereka dari pada bertemu denganku, sekedar bertatap muka denganku.”
Rikka baru akan mengatakan sesuatu ketika Erga kembali melanjutkan kalimatnya. “Apa kau tahu rasanya dicampakkan oleh orang tuamu sendiri? Dianggap seolah-olah kau hanya anak tiri sementara perusahaan-lah anak kandung orang tuamu, apa kau pernah merasakan hal itu?”
Erga memegang kedua pundak Rikka agar ia bisa menatap lurus ke matanya. Menemukan ketulusan dan kepolosan pada diri Rikka. “Aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin perhatian orang tuaku beralih dari perusahaan dan mulai melihatku. Melihat akibat dari mereka yang tidak pernah memperhatikanku. Perhatian, itulah yang selama ini yang kucari. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan bertindak berlebihan.”
“Lalu, sampai kapan kau akan seperti ini ?” tanya Rikka.
“Sampai aku berhasil membuat orang tuaku memperhatikanku.” Jawabnya lalu pergi meninggalkan Rikka sendirian. Perlahan air mata di pelupuk Rikka mulai jatuh membasahi pipinya.
“Apakah perhatian dariku masih belum cukup?” Rikka mulai terisak. Ia membekap mulutnya sendiri untuk menahan tangis.
“Aku memperhatikanmu... “
LAILATUL FITRIAH
XI RPL-1

0 comments:
Posting Komentar